Fahmi’s Blog

Ketika Tuhan Bicara Cinta

Wong’s Restaurant (3)

Posted by abduh24168 on 2 Maret 2009

“Fahmi, boleh kemari sebentar? ada yang ingin aku sampaikan.” Kata Juli kepadaku. Aku tinggalkan meja-meja dan kursi yang sedang aku bersihkan. “Ada apa Juli” tanyaku. “Begini…. entah bagaimana harus mengatakannya lagi kepadamu, aku dan kedai makan ini telah banyak berhutang budi padamu…” Kata Juli. Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali kami bertemu pandang, tetapi secepat kilat aku tundukan pandanganku dari melihat ke dalam matanya…. “Kamu kan tahu bulan ini pelanggan Wong’s restaurant sangat jauh berkurang, makanan yang terjual pun hanya sedikit, masih banyak stok daging di freezer…” lanjut Juli, “Jadi saya ingin bilang kalo kami belum bisa bayar gaji bulanan kamu lagi bulan ini…” lanjut Juli malu, “Baiklah saya faham, tapi ini kan sudah bulan yang ke-3 gaji saya tidak dibayarkan, sedangkan saya harus mengirim uang untuk Ibu dan keluarga saya di Indonesia… kira-kira bagaimana penyelesaian terbaiknya Juli?” sahutku. Juli terdiam, kemudian berkata,”Aku minta maaf Fahmi.”

Aku terdiam sejenak. Tubuhku menjadi lesu seperti tidak memiliki tulang belakang. Aku menjadi bingung memikirkan apa yang harus ku katakan lagi kepada Ibu serta kakak dab adikku di kampung. Padahal, seminggu lalu aku menjanjikan untuk mengirim uang sebesar 2000 ringgit untuk Ibu ku dan kakak ku yang akan memulai usaha nge-warung di kampung. Ya Allah, aku betul-betul bingung saat ini. Tidakkah Tuan Wong mengerti keadaan ku, jauh-jauh aku pergi merantau ke Malaysia untuk membantu beban Ibu dan saudara-saudara ku, bukan untuk menghibahkan keringatku dan menenteng-nenteng daging babi tanpa imbalan yang layak. Ya Allah yang Maha Mengetahui, aku tahu Engkau akan memberikan keputusan yang terbaik untuk hamba-Nya yang selalu mencoba mendekatkan diri kepada-Mu.

***

Hari menjelang sore dan aku baru saja kembali dari Masjid untuk menunaikan sholat ashar. Tiba-tiba aku melihat seseorang yang ku kenal berlari ke arah ku. Ya! itu adalah Juli. “Fahmi! Fahmi! ini barang-barang kamu. Lekas kamu pergi dan jangan muncul lagi ke kedai ya! Lekas!” kata Juli sambil sedikit terengah-engah karena berlari. Aku melihat dia juga seperti menahan sakit sambil menutupi punggung telapak tangan kirinya. Sekilas aku melihat seperti luka terkena benda panas. “Astagfirullah! tangan kamu kenapa Juli? dan apa yang terjadi? mengapa kamu minta aku pergi?” tanyaku bertubi-tubi.

Juli menjelaskan dengan sangat cepat dan sambil menahan sakit,”Alex, dia mabuk dan mengamuk. Dia bilang akan membunuhmu karena dia menyangka kamu yang mempengaruhi aku untuk masuk IIUM, kemudian akan merubah agama ku menjadi Islam. Dia memukulku dengan wajan yang masih panas.” Kasihan aku melihatnya, Juli melanjutkan sambil sedikit meringis,”Aku bereskan baju dan dokumen-dokumen mu semampu ku di dalam tas ini, tetapi aku tidak melihat ada dokumen lain di dalam kamar mu. Ku harap tidak ada yang tertinggal”. “Bagaimana dengan pasporku? Tuan Wong menahannya. Kamu tahu itu kan?” tanya ku balas. “Paspor mu ada di dalam tas ini. Sebetulnya aku yang menyimpannya, karena itu kemauan Ayah. Dan uang gaji mu selama tiga bulan ada di dalam sini juga.”

“Lalu bagaimana dengan luka tangan mu? biar aku antar kamu ke klinik dulu?” pinta ku. “Tidak usah Fahmi. Tidak seberapa kok. Lagipula aku senang mendapatkan luka ini demi membela mu. Sekarang pergilah!” Kata Juli sambil tersenyum kearah ku dan menyodorkan tas gemblok miliknya yang berisi beberapa helai kaos dan dokumen-dokumen penting milikku kepada ku. Aku pura-pura tak perduli dengan pernyataannya, “Baiklah. Aku percaya kepadamu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan berdoa kepada Tuhan ku agar Dia memberimu petunjuk kepada kebahagiaan sesungguhnya seperti yang selalu engkau ceritakan kepadaku.” , “Terima kasih Fahmi” jawabnya. Aku berpaling dan berjalan cepat ke arah masjid tadi. Setelah beberapa langkah aku berjalan, aku menengok kembali ke arahnya, kulihat ia seperti menangis. Aku merasa akupun seperti ingin menangis, tetapi semua itu aku lawan, kukatakan pada diriku kalo sekarang belum saatnya aku menangisi perpisahan seperti ini. Untuk sementara aku akan kembali ke masjid tadi dan berfikir di sana sampai aku tahu apa yang harus aku lakukan.

***

Posted in KTBC | Tagged: | 2 Comments »

Wong’s Restaurant (2)

Posted by abduh24168 on 1 Maret 2009

Oh iya. Aku bekerja di sebuah kedai makan masakan cina, Wong’s Restaurant. Yup! benar, di tempat ini dijual berbagai masakan cina termasuk daging babi dan anjing. Setiap hari tugas ku adalah sebagai pelayan, untungnya bukan koki, karena mencium bau masakan daging babi saja aku sudah muntah. Itu mungkin sebabnya di tiga bulan pertama aku bekerja, Tuan Wong selalu mensuplai tisu dan pengharum ruangan banyak sekali ke kamar ku, karena dia sudah berpengalaman dengan pekerja baru seperti aku sebelumnya, apalagi seorang Muslim, yang baru berurusan dengan daging babi dan anjing.

Wong’s restaurant terletak di jalan Raya Gombak, antara Genting Highland dan menara Petronas jika tidak melewati Highway, dan sekitar 3 KM dari kampus IIUM. Lokasi nya merupakan sederetan ruko-ruko 2 lantai, lantai kedua biasa dijadikan rumah tinggal si empunya ruko. Disebelah kiri kedai makan wong ada kedai makan India Muslim atau orang Malaysia biasa menyebutnya kedai mamak, sedangkan disebelah kanannya ada bengkel dan aksesoris mobil milik orang cina juga. Di depan kanannya ada kedai sepeda dan di depan kirinya ada kedai alat-alat olah raga yang keduanya juga milik orang cina.

Pelanggan kedai makan ini juga sebetulnya tidak terlalu banyak. Hanya orang-orang cina pemilik kedai-kedai tetangga saja dan kawan-kawan Tuan Wong dan anaknya Alex yang biasa nongkrong dan kongkow-kongkow sampai malam. Menurut Juli, ketika Ibunya masih hidup pelanggan Wong’s restaurant ini sangat banyak, bahkan sempat memiliki sampai 10 orang karyawan, sekarang sudah semakin berkurang, apalagi semenjak Tuan Wong tidak lagi serius mengurus usahanya ini, karyawan pun hanya tinggal aku dan Agus.

Ditambah lagi kelakuan Alex yang suka mabok dan tidak membiarkan kawan-kawannya membayar apa-apa yang telah dimakannya dengan alasan setia kawan, membuat kedai makan ini semakin hari semakin mengkhawatirkan kondisinya. Tentu saja sebagai manajer keuangan, menurut Juli dia sudah cerewet sekali memperingatkan Tuan Wong tentang masalah ini, tetapi Alex selalu marah dan bahkan pernah menampar Juli karenanya di hadapan Tuan Wong, namun menurut Juli Tuan Wong tetap menganggap tidak ada apa-apa yang perlu dirisaukan.

***

Sebetulnya aku kesal! Kesal bukan kepalang dengan agen ku. Dulu dia menjanjikan kalau aku akan dipekerjakan di sebuah pabrik sepeda motor yang sedang memerlukan tenaga kerja murah di wilayah Ipoh, Perak. Tetapi nyatanya aku ditempatkan di sebuah kedai makan cina di wilayah Kuala Lumpur yang menjual daging babi dan daging anjing. Namun karena Tuan Wong menahan Pasport-ku, maka apa daya, akupun harus tetap bekerja di situ. Prinsipku yang penting aku bisa shalat 5 waktu dan aku bekerja halal. Aku juga berjanji untuk tidak akan melayani Muslim untuk memakan daging babi dan anjing. Untuk makan sehari-hari aku selalu makan di luar, membeli makanan halal dari kedai mamak di sebelah.

Rupanya Tuan Wong memahami hal ini. Dia mempersilahkan aku rehat selama 20 menit setiap waktu shalat dhuhr, ashar, dan maghrib. Lumayan bisa dapat sholat jama’ah plus tilawah 4 halaman! Jadi aku bisa menjaga untuk tetap khattam dalam sebulan. Bukan cuma itu, dia juga memersilahkan aku untuk keluar malam selama 5 jam dalam seminggu. Dan aku selalu memanfaatkan waktu ini untuk bertemu dengan Ustadz Ikhwan dan kawan-kawan Halaqah ku yang semuanya adalah mahasiswa IIUM, hanya aku saja yang TKI.

Inilah waktu-waktu dimana aku merasakan kekuatan ku kembali, ketegaran ku menghadapi ini semua kembali pulih, dan setiap selesai halaqah ustadz Ikhwan selalu mengajak aku berbicara empat mata untuk bertanya banyak hal, kemudian mengingatkan aku untuk menelpon ibu, kakak, dan adikku di Bogor dengan telponnya, agar mereka tidak risau, dan agar aku selalu memohon doa dari Ibuku, agar aku dikuatkan dan diberikan kesabaran oleh Allah. Biasanya setelah menelpon ibuku aku selalu menitikan air mata, dan Ustadz Ikhwan pura-pura tidak melihatku dengan memalingkan badannya.

***

Posted in KTBC | Tagged: | 2 Comments »

Wong’s Restaurant (1)

Posted by abduh24168 on 1 Maret 2009

“Fahmi! Agus! bangun Lu cepat! keluarin tuh meja kursi! Habis itu baru Lu sholat subuh!” Teriakan Tuang Wong,majikanku, begitu keras apalagi ditambah suara gedoran tangannya dipintu kamarku yang ukurannya hanya pas untuk tidur ku dan Agus. “Iya Koh!” teriak Agus membalas. “Tuh sana Mi, kamu aja yang keluar dulu, aku semalam habis begadang dengan si Alex, masih ngantuk nih. Eh iya, nanti bangunin aku lagi jam 7 aja ya, pas kedai mau buka, pagi ini aku malas sholat subuh!”.

Aku bangun dan segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan berwudhu. Aku tak heran dengan ucapan Agus, karena setiap hari memang dia seperti itu, walaupun sudah aku nasihati sejuta kali tetap saja dia begitu. Entah apa yang ada dalam benaknya. Indahnya surga dan ngerinya neraka yang aku ceritakan melalui Mushaf Qur’an ku tetap tidak mampu membuatnya untuk meninggalkan minuman keras dan judi dengan anak laki-laki majikan ku si Alex.

Selesai berwudhu aku segera turun ke lantai bawah dan segera membuka kedai, mengeluarkan meja dan kursi serta merapihkannya. Beginilah setiap hari aktifitas pagiku selama 1 tahun terakhir. Tidak ada yang membantuku kecuali Juli Wong, anak perempuan majikanku.

Juli anak kedua dan terakhir majikanku. Usianya lebih muda 1 tahun dariku, dia 17 tahun. Tahun ini sepatutnya dia masuk kuliah di salah satu kampus di Kuala Lumpur tetapi tertunda karena banyak faktor, tapi menurut ceritanya, dia ingin sekali masuk ke kampus International Islamic University Malaysia (IIUM). Walaupun dia beragama kristen dan termasuk yang taat ke gereja setiap hari minggu, dia bilang kalo dia tertarik mempelajari tentang agama lain, terutama Islam katanya. Namun sayang, abangnya selalu menentang dia setiap kali Juli membuka pembicaraan untuk bisa kuliah di IIUM, sehingga Ayahnya, Tuan Wong pun selalu terpengaruh dan melarang Juli masuk IIUM.

Memang setelah Ibunya meninggal, perhatian Ayahnya terhadap Juli semakin berkurang. Setiap hari selalu Juli yang sibuk menyiapkan ini itu untuk keperluan berdagang, tak pernah lagi Tuan Wong mengajaknya jalan-jalan seperti dulu ketika Ibunya masih hidup, sedangkan Alex hanya tidur setelah malamnya bergadang dan main entah kemana. Terkadang aku merasa kasihan ketika mendengar keluh kesahnya, tapi yah apa daya…. akupun hanya seorang TKI yang ditempatkan sembarangan oleh agen ku sialan itu!

Oh iya, Juli sebenarnya gadis yang cantik. Wajahnya mirip Sohn Yejin pemeran film melodrama Korea yang terkenal itu. Hanya saja kecantikannya tidak begitu terlihat di hari-hari biasa karena tertutupi oleh asap kompor dan bau makanan di dapur serta kunciran rambut yang sedikit semrawut. Kecantikannya baru akan terlihat di setiap hari minggu, dengan gaun putih sederhana dan ikat kepala dari sapu tangan putih yang hanya menutupi sebagian rambutnya. Juli biasa pergi ke gereja dengan Tuan Wong, namun terkadang juga sendirian.

Juli juga sangat perhatian. paling tidak itu yang aku rasakan. Pernah suatu malam aku tidak bisa terbangun karena meriang, kemudian dia mengetuk kamar ku, “Fahmi, kamu tidak keluar? malam ini kan waktunya kamu mengaji, apa kau sebut itu? halaqah ya? sudah jam 9 malam loh!”, “Tidak Juli. Aku sakit, kepala ku pening, mungkin gejala flu” Jawabku. “Oh begitu ya, tunggu sebentar ya” kata Juli. Sejurus kemudian terdengar lagi ketukan di pintu kamarku yang sempit dan penuh tumpukan baju Agus,”Fahmi, ini aku letakan beberapa obat yang biasa aku dan Ayah ku minum jika sedang pening dan sakit. Ini memang obat china, tetapi halal kok! kamu minum ya, semoga besok kamu sudah sembuh” kata Juli. Aku buka pintu kamarku, dan kulihat beberapa jenis minuman dan serbuk langkap dengan air putih dan cara meminumnya yang ditulis oleh Juli sendiri. Saat itu juga aku berdoa untuknya semoga Allah menunjukinya jalan menuju kebenaran dan kebahagiaan sejati.

Setelah membereskan meja dan kursi untuk pelanggan yang akan ramai berdatangan setiap pagi, aku segera berlari ke arah Masjid yang berjarak lima ratus meter dari kedai makan tempat aku bekerja untuk mendapatkan shalat berjama’ah. Alhamdulillah, walaupun selalu masbuk, tetapi skor sementara adalah cleansheet buat ku selama setahun ini. Alias tidak pernah bolong shalat subuh berjama’ah di masjid. Karena aku khawatir menjadi orang munafik, bukankah salah satu tandanya adalah malas untuk shalat subuh dan isya berjamaah? Paling tidak itulah perkataan yang selalu diulang-ulang oleh Ustadz Ikhwan, mentor ngajiku selama pindah ke Malaysia.

***

Posted in KTBC | Tagged: | 2 Comments »